Rendahnya Minat Membaca Pada Anak
Membaca sangat penting bagi kehidupan manusia. Akan tetapi, kenyataanya bahwa banyak orang dewasa dan anak-anak yang belum menjadikan membaca sebagai suatu kebiasaan. Kita belum menjadikan membaca sebagai suatu kebutuhan atau budaya, apalagi pada anak-anak. Orang dewasa atau anak yang tida suka membaca, dikatakan telah terjadi proses pembodohan.
Rendahnya minat membaca dalam masyarakat,. Berkaitan dengan kemampuan berbahasa yang meliputi aspek mendengarkan, membaca, melukis, berbicara, dan tingkat pemahaman. Dengan kemampuan membaca yang rendah, tidak tertutup kemungkinan bahwa minat membaca yang dimiliki pun rendah. Ironisnya, presentase angka bebas buta huruf di
Banyak usaha yang telah dilakukan untuk mengembangkan minat membaca pada masyarakat, terutama pada anak-anak, baik oleh upaya pemerintah melalui intansi-intansi terkait, maupun oleh berbagai lembaga masyarakat, misalnya, dengan perpustakaan keliling atau taman bacaan. Pada awalnya, program ini mampu mengundang antusias masyarakat untuk dating ke perpustakaan dan anak-anak pun menjadi suka membaca. Sayangnya, program tersebut bersifat insidental dan belum permanent. Seiring dengan meredanya program tersebut, kegemaran untuk membaca pun ikut mereda. Dengan kata lain, minat membaca pada anak
KONDISI MINAT BACA SAAT INI
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tel;ah mendirikan berbagai jenis perpustakaan, antara lain Perpustakaan Umum disetiap wilayah Kotamadya, Perpustakaan Umum Perpumda, Perpustakaan Keliling, Perpustakaan Kelurahan, Perpustakaan Sekolah, Perpustakaan Masjid dan sebagainya. Yang menjadi masalah adalah masih rendahnya jumlah pengunjung dan sedikitnya masyarakat yang menjadi anggota. Hal ini terjadi karena “rendahnya minat baca masyarakat”
Menurut data statistic yang dikeluarkan UNESCO baru-baru inikedudukan
Pada sisi lain, betapa banyaknya hal-hal yang sedang merusak dan membunuh minat baca. Diantara media elektronik seperti TV, VCD, PlayStation. Dibandingkan dengan membaca, media elektronik ini lebih mudah, lebih menarik, memiliki daya pikat dan daya pukau, sehingga tanpa disadari anak-anak menjadi pecandu media tersebut. Dengan tidak mengurangi arti manfaat pada beberapa hal, mudaratnya jauh lebih besar. Apa yang diharapkan dari generasi yang kecilnya hanya mendengar dan melihat? Mereka kelak akan jadi generasi penonton dan pendengar, jangan harap akan lahir generasi pemikir. Melalui membaca akan melahirkan generasi penulis dan dari sini akan lahir generasi pemikir. Hanya segelintir masyarakat yang telah memupuk minat baca tersebut, yaitu mereka yang mampu membeli buku. Kemiskinan yang menghadang bangsa suatu negara tidak mungkin untuk membeli buku, untuk keperluan makan saja mereka mengalami kesulitan. Karenanya dibutuhkan perpustakaan yang dapat membantu mereka yang belum beruntung (yang miskin).
SEBAB ANAK TIDAK SUKA MEMBACA
1.Televisi
Sebagian besar masyarakat menyukai tontonan televise. Kebanyakan mereka akan berpendapat sama mengenai peran televise di tengah-tengah masyarakat, yaitu sebagai sarana hiburan dan informasi. Dampak negative televise terutama pada program-program yang dinilai tidak mendidik. Ketika proses pembelajaran di tengah keluarga sedang berlangsung, televisi mengambil bagian terbesar. Orang tua sering sibuk dan tenggelam dalam pekerjaannya, sehingga mereka lupa mendampingi anak ketika menonton televisi. Kenyataanya bahwa kebanyakan anak lebih menyukai tontonan TV daripada membaca. Derasnya program TV di negri ini yang memiliki rating tinggi, membuat anak betah berlama-lama duduk di depan TV. Dari sejumlah tayangan anak yang diputar di sepuluh stasiun televisi, kurang dari 30% aman untuk ditontondan selebihnya berbahaya. Bahkan, tidak jarang anak-anak ikut menikmati tayangan orang dewasa yang kebanyakan tidak layak untuk ditonton.
Kemajuan di bidang teknologi, seperti computer, atau video game, di satu sisi mendatangkan banyak manfaat, tetapi di sisi lain berdampak buruk bagi perkembangan anak. Hal yang perlu diwaspadai adalah kegemaran anak untuk barlama-lama bermain game karena hal ini akan menjauhkan anak dari aktivitas membaca.
2. Kebiasaan Keluarga
Keluarga merupakan factor utama yang mempengaruhi minat membaca. Hal ini antara lain terlihat pada kebiasaan keluarga. Umumnya, masyarakat lebih suka menggunakan bahasa lisan daripada bahasa tulis.
Budaya lisan berakar sangat kuat. Budaya bercerita dan mendongeng berkembang baik di negeri ini. Bercerita tidak sepenuhnya dipandang buruk, tergantung dari muatan cerita dan cara penuturannya. Bagi anak kecil yang belum dapat membaca, kegiatan mendengar cerita merupakan salah satu cara yang cukup efektif dalam proses pembelajaran. Melalui proses mendengar cerita, anak kecil bias lebih cepat menangkap ionformasi yang kelak akan dicari kebenaran cerita itu melalui membaca.
3. Faktor Eksternal
Rendahnya minat membaca dan kelangkaan bahan bacaan berhubungan dengan tingkat daya membeli masyarakat yang rendah. Hal ini karena masyarakat pada umumnya berpenghasilan rendah. Angka kemiskinan telah berkurang hamper mencapai 30%, tetapi pengurangan ini belum mencerminkan tingginya minat membaca.
Kondisi perburukan di
Namun, masih banyak guru yang kurang dapat membangkitkan nalar serta kreativitas siswa. Siswa hendaknya diberi motivasi agar mampu belajar mencari dan menganalisis data. Guru tidak hanya mengajar searah, tetapi juga harus melakukan banyak dialog dengan menggunakan sumber informasi yang ada, misalnya, buku.
Namun, dibalik derasnya factor yang turut mempengaruhi rendahnya minat membaca anak, ada satu hal yang cukup mengembirakan, yakni sebagian dari anak sangat haus akan bahan bacaan yang bermutu dan sehat. Tuntutan dari pihak keluarga menduduki rangking teratas di sekolah, sehingga mendorong si anak untuk membaca.







0 comments:
Post a Comment