Tuesday, 17 March 2009

2.9 MINAT BACA, PERPUSTAKAAN, PENDIDIKAN DAN SUMBER DAYA MANUSIA



Minat membaca bukanlah sesuatu yang dimiliki sejak lahir,melainkan diperoleh sebagai hasil belajar yang dikembangkan dan ditumbuhkan dari pengalaman sehari-hari. Pengenbangan dan pertumbuhan itu harus ditanamkan sejak kecil, jauh sebelum seorang anak memasuki Taman Kanak-kanak. Dengan demikian, persiapan yang telah dirintisnya akan mempengaruhi perkembangan minatnya terhadap kegiatan membaca dikemudian hari. Menyadari pentingnya minat membaca bagi generasi yang akan datang, maka pembinaan dan persiapan untuk mengarahkan anak-anak menjadi manusia Indonesia yang gemar membaca, banyak tergantung dari pdndidikan, baik di rumah, di sekolah maupun dalam masyarakat. Betapapun lengkapnya sumber-sumber informasi yang tersedia, jika tidak diimbangi dengan minat membaca yang tinggi, bangsa Indonesia tetap tidak dapat meningkatkan taraf pengetahuan dan keterampilannya melalui buku (membaca di perpustakaan).
Dalam era pembangunandewasa ini pernan sumber daya manusia semakin penting, oleh karena itu stmber daya manusia perlu dikembangkan dan ditingkatkan mutunya, melalui antara lain pembinaan minat baca. Untuk itu kegiatan membaca merupakan hal yang perlu kita populerkan dewasa ini. Dengan membaca dapat kita peroleh informasi yang bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari.
Membaca bagi seseorang mewujudkan lahirnya komunikasi, dengan bacaan sebagai salah satu bentuh usaha guna memenuhi kebutuhan yang efektif. Kebiasaan membaca di kalangan masyarakat luas sangat pentimg sebagai upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.
Upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia telah menjadi tekat dalam menghadapi tantangan dan persaimgan global di masa mendatang.[paragraf]Sumber daya manusia yang berkualitas merupakan aset masa depan bangsa, dan dapat diupayakan peningkatannya melalui perpustakaan, pusat komunikasi dan informasi, taman bacaan, sebagai lembaga pendidikan non formal. Kurangnya minat baca pada masyarakat dikarenakan bahwa membaca belum dijadikan kebutuhan sehari-hari, belum ada rasa ketergantungan terhadap kegiatan membaca sebagai proses belajar dan peningkatan kualitas diri. Pada hal maju mundurnya suatu bangsa dapat diukur dari seberapa rendah-tingginya minat baca masyarakat bangsa yang bersangkutan.


Masalah belum melembaganya kebiasaan membaca pada masyarakat sejak lama sudah menjadi pusat perhatian berbagai kalangan oleh pihak masyarakat sendiri, berbagai solusi telah dilaksanakan, misalnya dengan mengadakan perpustakaan keliling memberikan sumbangan buku-buku, menyelenggarakan lomba mengarang atau menulis, dan berbagai kegiatan lain yang dimaksudkan untuk mengembangkan kebiasaan membaca. Namun demikian masalah tersebut sampai sekarang ini tampaknya belum selesai, dan tujuan program pembangunan di bidang ini belum sepenuhnya tercapai sesuai yang diharapkan. Sebagai mana yang ditunjukan oleh hasir tes dan riset yang dilakukan oleh IEA tahun 1992 dari 41 negara, ternyata kemampuan membaca Indonesia baru mencapai skor 36, padahal rata-rata kemampuan membaca negara lain berada di atas 50. Walau hasil penilaian ini sudah 10 tahun yang lalu, tetapi menunjukkan bahwa minat baca dan kemampuan baca-tulis bangsa Indonesia sampai saat ini masih rendah.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya minat baca. Sebagian dari faktor tersebut misalnya keterbatasan fasilitas baca, kesulitan dalam pengadaan bahan pustaka dan faktor budaya. Belum terbiasanya iklim membaca, proses pembelajaran membaca yang belum pas, dan kurangnya keteladanan orang tua dan guru

0 comments:

Viwawa